Lima Sekolah di Bandung Meriahkan Isola Keroncong Coffee Break 2


BANDUNG, BJ.COM - Sebanyak lima Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/SMK) meriahkan Isola Keroncong Coffee Break 2, di Teater Terbuka Museum Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Dr Setiabudi No. 229, Kota Bandung, Jumat (1/11/2019).

Acara yang menginjak tahun kedua ini, diprakarsai oleh Departemen Pendidikan Musik Fakultas Seni dan Desain (FSD) UPI.

Lima sekolah yang mengikuti kegiatan tersebut adalah SMAN 10 Bandung, SMAN 6 Cimahi, SMK PGRI 1 Bandung, SMA 1 Labschool UPI, dan SMAN BPI 1 Bandung. Tiap-tiap sekolah tampil secara beregu dan menyanyikan dua lagu yang diaransemen menjadi musik keroncong.

Penggagas acara, Rita Milyarvini menyampaikan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menarik minat remaja agar mengenal, mencintai, dan mampu berekspresi melalui musik keroncong. "Selain itu, tujuan lainnya guna mengenalkan pendidikan kesantunan melalui musik," ujarnya.

Ia menjelaskan, selain alat musik dan instrumennya, ciri khas dalam musik keroncong adalah pemilihan diksi pada liriknya yang menggunakan bahasa publik, bukan bahasa personal. Sehingga, musik keroncong bisa menjadi bahan ajar bagi siswa agar bisa membedakan penggunaan bahasa personal dan bahasa publik.

"Sebagai musik yang didengarkan oleh banyak orang, lirik lagu keroncong hadir dengan bahasa publik, bukan bahasa personal," ungkapnya.
Rita mencontohkan, kebanyakan lagu pop masa kini selalu menggunakan kata personal, seperti penggunaan kata "aku" atau "kamu".

"Itu yang membedakannya. Ini salah satu metode pendidikan kesantunan dari musik keroncong," jelas Rita yang juga menjabat Kepala Riset Pendidikan Kesantunan melalui Kreasi Keroncong.  
Ke depan, lanjutnya, pada kegiatan Isola Keroncong berikutnya, seluruh peserta akan diupayakan membuat lirik lagu keroncong sendiri, tidak membawakan lagu populer.

"Mereka sendiri yang bikin lirik dan musiknya. Temanya sendiri bebas karena musik keroncong memiliki banyak tema, seperti kehidupan sehari-hari, alam, makanan bahkan perjuangan," ucapnya.

Salah seorang peserta, Neva Halwa Khairunisaa mengakuantusias mengikuti acara tersebut. Menurut siswa SMAN 6 Cimahi itu, acara seperti ini harus lebih sering digelar agar bisa mengenalkan musik keroncong secara masif
kepada anak muda.

Ia juga mengaku ini adalah pengalaman pertamanya membawakan lagu keroncong.

"Awalnya saya gugup, tapi puas karena dapat pengalaman baru. Tahu genre baru juga karena biasanya saya main ansambel tradisional," ucap siswa yang bergabung di ekstrakurikuler Sentra Majeng SMAN 6 Cimahi itu.(Sugi)
Share on Google Plus

About Bulletin Journalist

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar