ICA Analisa, Mengukur Peta Kekuatan IPA Vs Klan Mawardi Yahya

INDRALAYA, BJ.COM - Pilkada di Ogan Ilir (OI) 23 Sept 2020 tahun depan, rumor yg berkembang di masyarakat hanya terfokus pada dua kubu yang diprediksi kuat akan bersaing sebagai calon bupati.

Dua kubu itu siapa lagi kalau bukan antara Ilyas Panji Alam (incumbent)  versus calon yg berasal dari klan Mawardi Yahya (MY), apakah AW Noviadi,  Zaitun,  Hj Fauziah atau keluarga lainnya? Sedangkan pihak lain (poros ketiga) sampai sekarang belum terdengar kuat dengungnya di publik.

Karena itu menarik juga menganalisis tentang kekuatan kedua kubu tersebut, sambil menunggu kemungkinan munculnya poros ketiga?

IPA sebagai incumbent mau tidak mau tetap diperhitungkan,  peluangnya untuk lanjut tetap terbuka. Sebagai incumbent IPA jelas mengendalikan struktur yang ada di daerah,  sebut saja jajaran birokrasi pendukungnya, hingga ke desa dan dusun.

Memang birokrasi yang disokong ASN dan Kades secara teori tidak boleh terlibat dalam politik praktis,  tapi fakta lapangan dari dulu selalu bertolak belakang dengan teori itu.

Walau pada masa kampanye IPA akan cuti, tetaapi diyakini seorang Patahana sudah menyiapkan trik dan pola jitu untuk mengoptimalkan kekuatan struktur dalam pertarungan.

Tapi harus diingat juga dalam barisan birokrasi dan kepala desa ini,  tidak mungkin bisa 100% terakomodir. Suatu keniscayaan kalau akan ada yang 'membelot' dalam pilihan politik.  minimal mengambil sikap diam, alih-alih ambil posisi aman. Hal yang sama juga berlaku di kalangan pemerintahan tingkat desa/dusun.

Selain peluang memanfaatkan struktur birokrasi, tentu kekuatan yang lebih riil akan mndukung IPA,  sudah barang tentu adalah mesin partai terutama PDIP.

Ingat pada Pileg 2019 lalu,  PDIP meraih suara terbanyak di OI,  sekitar 41.000 suara. Ini diperkirakan akan dikelola denan baik oleh IPA dan PDIP,  sebagai modal dasar untuk Pilkada. Kendati antara Pileg dan Pilkada tentu ada perbedaan animo masyarakat dalam menentukan pilihannya.

Sebagai incumbent IPA tentu juga akan dibedah kinerjanya selama 4 tahun ini, seberapa sukses dia melaksanakan tugas selama menjadi bupati. Tentu IPA akan "menjual" program serta prestasi-prestasi yang telah dilakukannya,  seperti program SATU DESA SATU DINIYAH,  ATM BERAS TIAP KECAMATAN, OPERASI BIBIR DAN LANGIT SUMBING, PROGRAM BURAI DESA WISATA WARNA-WARNI, NGOPI OI,  dan SAMBANG DESA yang rutin dilakukannya.

 Selain itu, tentu program-program pembangunan lainnya yang berusaha dimaksimalkannya, 6 termasuk berupaya "menguasai" semua kekuatan yg bisa dikuasai seperti KTI,  Koni, dll. Itu antara lain yang diprediksi bisa menjadi kekuatan dan modal IPA dalam pilkada 2020 nanti.

Lalu bagaimana kekuatan kubu lainnya? Terutama dari klan Mawardi Yahya (MY). Kubu dengn tokoh sentralnya MY ini tentu tidak bisa dianggap remeh,  karena fakta menunjukkan secara riil di masyarakat MY dan keluarga masih sangat populer dan dielu-elukan. Akar MY masih kuat.

Sebagai mantan Bupati dua periode (2005-2015) tentu MY memiliki masa-masa keemasan dan kemesraan dengan masyarakat OI. Namanya juga masih tetap harum,  dan jasa-jasanya masih diingat masyarakat.

Sebut saja image bahwa MY sebagai pelopor, inisiator, pendiri OI tidak akan terkikis. Begitu juga sejumlah gebrakannya saat menjadi bupati juga tetap diingat, seperti PEMEKARAN KECAMATAN DAN DESA, PEMBUKAAN/PEMBUATAN JALAN BARU MEMBUKA ISOLASI KAWASAN, PEMBANGUNAN KPT TG SENAI, serta PROGRAM SATU DESA SATU PAUD.

Belum lagi upaya MY sebagai Wagub Sumsel saat ini, yang dengan cepat menginisiasi perbaikan jalan-jalan propinsi di Ogan Ilir (ruas jalan Tanjung Raja-Muarakuang-Munggu serta ruas jalan Simpang Meranjat-Tambang Rambang-Beringin), termasuk juga ruas jalan kabupaten mulai desa Babatan Saudagar-Pemulutan Selatan-Rantau Panjang-Sungai Pinang,  tentu cukup besar pengaruhnya terhadap masyarakat di jalur jalan-jalan tersebut.

Sebagai orang lama,  sejumlah kekuatan politik dan sosial diprediksi  juga masih dipegang MY dan keliarga. Golkar,  Nasdem,  dan Hanura diperkirakan kader-kadernya masih banyak yang loyal ke MY.

Dengan demikian kalau hanya kedua kubu ini yang akan muncul ke gelanggang Pilkada, diperkirakan akan terjadi persaingan sangat ketat, bahkan sangat keras. Bisa-bisa antar kedua kubu/kelompok, akan terjadi saling sandera dengan mengekspoitasi kelemahan yang ada di kedua kubu.

Karena itu untuk mengurangi tensi pilkada OI ini,  kehadiran calon/kubu lain diyakini akan membuat suasana Pilkada lebih kondusif. Tapi adakah?  Dan siapakah? Pertanyaan tersebut yang masih menarik untuk kita ikuti.

Mungkinkah Helmy Yahya, M Kanoviyandri Rasyid,  Mulyadi Adnan, Hendri Zainudin, Sobli Rozali, Endang PU Ishak,  Muchendi Mahzareki Ishak, ada yang turun gelanggang sebagai calon Bupati. Entahlah?

Bila melihat figur kandidat yang sudah mengambil formulir cabup/cawabup di PDIP,  keliatannya Golkar yang masih dikuasai Alex Noerdin,  lebih memilih utk kursi orang kedua (Cawabup), tinggal siapa orangnya bisa saja Endang PU Ishak atau Yulizar Dinoto yang sudah punya nama di daerah ini.

Kalau untuk posisi Cabup keliatannya keduanya "tau diri". Dan saat ini sangat realistis bila mereka berharap digandeng oleh IPA.

Tapi bila dilihat masuknya anak Iskandar SE (Bupati OKI) mengambil formulir Cawabup OI dari PDIP, maka persaingan untuk kursi cawabup akan lebih ramai, masih banyak kemungkinan bisa terjadi.

Tapi bila beberapa bulan ke depan terjadi perubahan kepemimpinan di Golkar Sumsel,  dan MY lebih punya peran,  maka daptt dipastikan Golkar akan mencalonkan diri sebagai Cabup dan orangnya kemungkinan dari keluarga MY.

Sedangkan utk kandidat Bupati/Wabup OI dari jalur perseorangan (independen) belum bisa diprediksi. Tapi bila melihat pengalaman dua pilkada OI terdahulu (2010 dan 2015), maka selalu ada calon dari jalur perseorangan.

Bila kekuatan kubu IPA dan klan MY berimbang secara modal sosial dan financial,  maka pertarungan akan ditentukan setidaknya oleh dua hal.

Pertama bagaimana image (kesan)  masyarakat terhadap kepemimpinan dan hasil kerja masing-masing, saat keduanya memimpin Kab OI.

Tentu image tersebut secara perorangan bisa beragam, tapi pastilah secara umum ada kesan yang lebih dominan. Singkatnya kalau mayoritas kesan masyarakat menyatakan bahwa era IPA lebih baik maka orang akan dominan juga kecenderangan memilih IPA.

 Begitu pula sebaliknya bila image masyarakat menyatakan era MY yang lebih baik,  maka masyarakat pemilih juga akan cenderung memilih klan MY.

Kedua,  selain faktor image dan persepsi publik,  hal lain yg juga akan mempengaruhi masyarakat pemilih adalah figur calon wakil bupati (wabup).

Cawabup yang lebih baik, berkualitas, berintegritas, serta populis dan populer,  akan sangat mempengaruhi kecenderungan orang memilih paslon nantinya.

Termasuk juga masalah keserasian faktor kesukuan dan kedaerahan,  akan menjadi nilai tambah terhadap paslon bupati/wabup yang akan dipilih masyarakat.

Karena itu baik IPA maupun MY harus ekstra hati-hati dalam memilih calon yang akan menemani. Salah langkah maka kekalahan menunggu.

Penulis: Drs Iklim Cahya,  MM (Ketua DPD Partai Berkarya OI/Mantan kader Golkar,  dan mantan Ketua DPRD OI periode 2004-2014).
Share on Google Plus

About Bulletin Journalist

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar