Ketua DPP AJH Medan Minta Aparat Kepolisian Usut Kekerasan Wartawan oleh Kades Melilian

Muara Enim, BJ.COM - Ketua umum DPP Aliansi Jurnalis Hukum (AJH) Kota Medan meminta aparat kepolisian mengusut tuntas tindakan intimidasi dan kekerasan yang diduga dilakukan oleh oknum Kepala Desa (Kades) Melilian Kecamatan Gelumbang kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan terhadap Fauzi salah satu wartawan surat kabar mingguan biro prabumulih pada rabu sore (21/8/2019).

Ketua AJH Dofu Gaho mengungkapkan, AJH kota medan mendesak aparat kepolisian supaya kasus ditindaklanjuti karena intimidasi dan kekerasan lantaran melanggar UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 8 UU Pers, mengamanatkan bahwa dalam menjalankan profesinya, jurnalis mendapat perlindungan hukum.

"Merujuk pada KUHP dan Pasal 18 UU Pers, pelaku kekerasan terancam hukuman dua tahun penjara atau denda Rp500 juta, Kami mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus kekerasan dan intimidasi terhadap saudara Fauzi dan kami minta kepada instansi terkait untuk mencopot oknum kepala Desa tersebut dari jabatannya," tegas Ketum Dpp AJH ini.

Ia juga mengimbau para pemimpin redaksi secara aktif melaporkan kasus kekerasan yang dialami jurnalisnya kepada pihak kepolisian untuk proses hukum," imbuhnya.

Sebelumnya informasi dihimpun suaramerdeka id, Fauzi salah satu Wartawan surat kabar mingguan Merdekanews biro prabumulih yang bertugas diwilayah Gelumbang kabupaten Muara Enim provinsi Sumatera Selatan mengaku mendapat ancaman fisik dari seorang oknum Kepala Desa ketika melakukan investasi jurnalistik di Desa Mililian kecamatan Gelumbang.

Selain itu,fauzi juga mengaku menerima ancaman dari oknum Kepala desa (Kades) Melilian, Mumaidi dan sejumlah perangkat desa lainnya. Bahkan diduga merasa belum puas, oknum Kades juga menyuruh salah satu perangkat desa untuk merampas handphone milik korban dan menghapus seluruh dokumentasi foto pekerjaan proyek ADD 2019 Desa Melilian, yang dia ambil sebelumnya.

Dikatakan Fauzi, tindakan pengancaman dan perampasan barang miliknya itu bermula ketika dirinya hendak melakukan peliputan investigasi setelah sebelumnya mendapatkan laporan dari masyarakat soal pekerjaan proyek ADD (Alokasi Dana Desa) tahun anggaran 2019 di Desa Melilian.

Setibanya di tempat tujuan (TKP), korban melihat ada aktivitas pekerjaan pembuatan jembatan oleh sejumlah pekerja yang merupakan warga desa setempat.

“Saya sempat tanyakan kepada mereka (para pekerja) soal pekerjaan itu. Setelah mengambil foto sebanyak tiga kali saya ngambil foto kemudian saya pergi lagi untuk cari info tambahan. Namun baru berjalan sekitar 60 meter, tiba tiba dihadang seorang pria menggunakan baju kaos dalam dengan pisau yang terselip dipinggang ngadang saya,” ungkap Fauzi.

Dia menambahkan jika yang menghadangnya tersebut adalah Kades Desa Melilian, dirinya sempat menerima ancaman dari pelaku jika sampai membuat berita miring tentang pekerjaan proyek ADD dari desanya. Tak hanya itu, korban menyebut saat kejadian oknum Kades juga mengajak belasan warga lainnya.

“Suruh siapa kamu foto-foto proyek itu. Awas kalau proyek ini kamu beritakan miring, ini dana desa tau tidak,” sebut korban menirukan ucapan pelaku dengan dana kasar, sambil dirinya menelpon menghubungi seluruh perangkat desa dan rombongan pekerja proyek jembatan dana ADD untuk datang ke lokasi (TKP).

Terpisah, saat dikonfirmasi terkait peristiwa ini,Kamis (22/08/2019) ,Camat Kecamatan Gelumbang Syarkowi mengaku belum mengetahui kejadian tersebut. Dirinya juga belum bisa memberikan tanggapan terlalu jauh terkait dugaan sikap arogan oknum Kades Melilian itu.

“Saya lagi di Bandung pak, ada acara mendampingi paskibraka. Kita belum dapat kabar itu, jadi belum bisa memberikan tanggapan, nanti kita cari tahu dulu persoalannya,” ucap Camat Gelumbang.(SHM)
Share on Google Plus

About Bulletin Journalist

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar